MATERI KELOMPOK 10
MENCIPTAKAN KONDISI BELAJAR YANG EFEKTIF DAN MENYENANGKAN
A.
Kondisi Belajar Mengajar yang Efektif
Kondisi belajar mengajar yang
efektif adalah suatu keadaan atau situasi belajar yang dapat
menghasilkan perubahan perilaku pada seseorang setelah ia ditempatkan pada
situasi belajar yang didalamnya melibatkan tenaga pendidik serta peran
aktif siswa itu sendiri. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam
menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilaksanakannya. Kuantitas
dan kualitas tersebut harus sesuai dengan pelajaran yang diberi dalam
pengajaran.
Oleh sebab itu, guru harus memikirkan dan
membuat perencanaan secara seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar bagi
siswanya dan mempebaiki kualitas mengajarnya. Kuantitas dan
kualitas mengajar menuntut perubahan-perubahan dalam pengorganisasian kelas,
penggunaan metode mengajar, strategi belajar mengajar, maupun sikap dan
karakteristik guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Guru berperan
sebagai pengelola proses belajar mengajar, bertindak selaku fasilitator juga
berusaha menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif sehinggga
memungkinkan proses belajar mngajar, mengembangkan bahan pelajaran dengan baik,
dan meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak pelajaran dan menguasai
tujuan-tujuan pendidikan yang harus mereka capai.
1.
Melibatkan Siswa Secara Aktif
Mengajar adalah membimbing kegiatan
belajar siswa sehingga ia mau belajar. Dengan demikian, aktivitas siswa
sangat diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar sehingga siswalah yang
seharusnya banyak aktif, sebab murid sebagai subjek didik adalah yang merencanakan,
dan ia sendiri yang melaksanakan belajar. Aktivitas belajar siswa yang
dimaksudkan disini adalah aktivitas jasmaniah maupun aktivitas mental. Menurut
Usman (2013:22) aktivitas belajar siswa dapat digolongkan ke dalam beberapa
hal, yaitu :
- Aktivitas visual (Visual activities)
seperti membaca, menulis, melakukan eksperimen dan demonstrasi.
- Aktivitas lisan (Oral activities) seperti
bercerita, membaca sajak, tanya jawab, diskusi, nyanyi.
- Aktivitas mendengarkan(listening activities)
seperti mendengarkan penjelasan guru, ceramah, pengarahan.
- Aktivitas gerak (motor activities) seperti
senam, atletik,menari, melukis.
- Aktivitas menulis (writing activities)
seperti mengarang, membuat makalah, membuat surat.
Setiap jenis aktivitas tersebut diatas
memiliki kadar atau bobot yang berbeda bergantung pada segi tujuan
mana yang akan di capai dalam kegiatan belajar mengajar. Yang jelas, aktivitas
kegiatan belajar murid hendaknya memiliki kadar atau bobot yang lebih tinggi.
Berikut ini dikemukakan sistem belajar mengajar yang merupakan salah satu upaya
dalam menciptakan belajar mengajar yang efektif dan efisien yakni dengan sistem
belajar siswa aktif atau CBSA. Dengan demikian untuk melihat keterlibatan
siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar dapat diwujudkan dengan
cara, keterlibatan siswa secara langsung dalam menyampaikan suatu pendapat atau
opini, baik secara individu maupun kelompok.
Secara harafiah Cara belajar siswa
aktif dapat diartikan sebagai sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan
siswa secara fisik, mental intelektual, dan emosional untuk memperoleh hasil
belajar yang berupa perpaduan antara kognitif, afektif, dan psikomotor. CBSA
merupakan konsep yang sukar didefinisikan secara tegas sebab sebenarnya
semua cara belajar itu mengandung unsur keaktifan pada diri anak didik,
meskipun kadar keaktifannya itu berbeda-beda. Dengan kata lain, keaktifan dalam
CBSA menunjuk pada keaktifan mental meskipun untuk mencapai maksud ini dalam
banyak hal dipersyaratkan keterlibatan langsung dalam berbagai keaktifan fisik.
2. Menarik Minat dan Perhatian Siswa
Menurut Usman (2013:27) Kondisi
belajar mengajar yang efektif adalah adanya minat dan perhatian siswa dalam
belajar mengajar. Minat merupakan suatu sifat yang relatif menetap pada diri
seseorang. Minat ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar sebab dengan minat
seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya, tanpa minat
seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu. Keterlibatan siswa dalam belajar
erat kaitannya dengan sifat-sifat murid, baik yang bersifat kognitif seperti
kecerdasan dan bakat maupun yang bersifat afektif seperti motivasi, rasa
percaya diri, dan minatnya. William james (dalam Usman 2013:17) melihat bahwa
minat siswa merupakan faktor utama yang menentukan derajat keaktifan belajar
siswa. Jadi, efektif merupakan faktor yang menentukan keterlibatan siswa secara
aktif dalam belajar.
Perhatian bersifat lebih sementara dan
ada hubungannya dengan minat. Perbedaaannya ialah minat sifatnya menetap
sedangkan perhatian sifatnya sementara, adakalanya menghilang. Pendapat
diatas memberi gambaran tentang eratnya kaitan antara minat dan perhatian.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan perhatian seseorang
terhadap sesuatu , maka terlebih dahulu harus ditingkatkan minatnya.
3. Membangkitkan Motivasi Siswa
Motif adalah daya dalam diri seseorang
yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu, atau keadaan seseorang atau
organisme yang menyebabkan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laku
atau perbuatan. Sedangkan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan
motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan
mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong
tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.Tugas
guru adalah membangkitkan motivasi anak sehingga ia mau melakukan belajar.
Menurut Usman (2013:29) Motivasi dapat timbul dari dalam diri individu dan
dapat pula timbul akibat pengaruh dari luar dirinya.
a. Motivasi Instrinsik
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauan sendiri.
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauan sendiri.
b. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang
menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam
diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Jenis
motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena
adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan
kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar.
4.
Prinsip Individualitas
Salah satu masalah utama dalam pendekatan
belajar mengajar ialah masalah perbedaan individual. Setiap guru memahami bahwa
tidak semua murid dapat mempelajari apa-apa yang ingin di capai oleh
guru. Biasanya perbedaan individual itulah yang lalu dijadikan kambing hitam.
Jarang sekali guru menjelaskan bahwa ketidakmampuan murid dalam belajar itu
merupakan akibat dari kelemahan guru dalam mengajar.
Menurut Bloom (dalam Usman 2013:30), Jika
guru memahami persyaratan kognitif dan ciri-ciri sikap yang diperlukan untuk
belajar seperti minat dan konsep diri pada diri siswa-siswanya, dapat
diharapkan sebagian terbesar siswa akan dapat mencapai taraf penguasaan sampai
75% dari yang di ajarkan. Oleh sebab itu, hendaknya guru mampu menyesuaikan
proses belajar mengajar dengan kebutuhan-kebutuhan siswa secara individual
tanpa harus mengajar siswa secara individual.
Mursell (dalam Usman 2013:30)
mengemukakan perbedaan individual secara vertikal dan secara kualitatif.
Yang dimaksudkan dengan perbedaan vertikal adalah intelegensi umum dari siswa
itu. Perbedaan kualitatif terletak pada bakat dan minatnya. Maka wajar
bila ada anak yang suka mempelajari atau memperdalam IPA,IPS,elektronika, dan
sebagainya.
5.
Pengajaran dan penghargaan
Alat
peragaan pengajaran, teaching aids, atau audiovisual aids (AVA) adalah
alat-alat yang digunakan guru ketika mengajar untuk membantu memperjelas materi
pelajaran yang disampaikan kepada siswa dan mencegah terjadinya Verbalisme pada
diri siswa. Pengajaran yang digunakan banyak verbalisme tentu akan segera
membosankan anak sebaiknya pengajaran akan lebih menarik bila siswa gembira
belajar atau senang karena mereka merasa tertarik dan mengerti pelajaran yang
di terimanya.
Usman (2013:31) mengemukakan Belajar yang
efektif harus mulai dengan pengalaman langsung atau pengalaman konkret dan
menuju pada pengalaman yang lebih abstrak. Belajar akan lebih efektif jika di
bantu dengan alat peraga pengajaran dari pada bila siswa belajar tanpa di bantu
dengan alat pengajaran.
Menurut
Usman (2013:31) Penggunaan alat peraga pengajaran hendaknya memperhatikan
hal-hal sebagai berikut.
Nilai atau
manfaat media pendidikan
Media pendidikan yang di sebut
audiovidual aids menurut Encyclopedia Educational Research memiliki nilai
sebagai berikut.
a. Meletakkan dasar-dasar yang konkret
untuk berfikir. Oleh karena itu, mengurangi verbalisme (tahu istilah tetapi
tidak tahu arti, tahu nama tetapi tidak tahu bendanya).
b. Memperbesar perhatian siswa.
c. Membuat pelajaran lebih menatap atau
tidak mudah di lupakan.
d. Memberikan pengalaman yang nyata
yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan para siswa
e. Menumbuhkan pemikiran yang teratur
dan kontinyu.
f. Membantu tumbuhnya pengertian dan
membantu perkembangan kemampaun berbahasa.
William
Burton dalam Uzer Usman (2013:32) memberikan petunjuk bahwa dalam memilih alat
peraga yang akan digunakan hendaknya kita memperhatikan hal-hal berikut :
- Alat-alat yang di pilih harus
sesuai dengan kematangan dan pengalaman siswa serta perbedaan
individual dalam kelompok.
- Alat yang dipilih harus tepat
memadai dan mudah di gunakan.
- Harus di rencanakan dengan
teliti dan diperiksa lebih dahulu.
- Penggunaan alat peraga di
sertai kelanjutannya seperti dengan diskusi, analisis, dan evaluasi.
- Sesuai dengan batas kemampuan
biaya.
jenis pengertian atau dalam hubungannya dengan tujuan.
- Audiovisual dan sumber-sumber yang digunakan
merupakan bagian integral dari pengajaran.
- Perlu diadakan persiapan yang saksama oleh guru
dan siswa mengenai alat audiovisual .
- Siswa menyadari tujuan alat audiovisual dan
merespons data yang diberikan.
- Perlu diadakan kegiatan lanjutan.
- Alat audiovisual dan sumber-sumber yang digunakan
untuk menambah kemampaun komunikasi memungkinkan belajar lebih karena
adannya hubungan-hubungan.
Demikianlah beberapa ketentuan yang perlu
diperhatikan dalam penggunaan alat peraga pengajaran sehingga kegiatan belajar
mengajar akan lebih efektif jika dibandingkan hanya dengan penjelasan
lisan. Demikianlah pembahasan tentang Kondisi
Belajar Mengajar yang Efektif semoga dapat menjadi referensi bagi
anda, dan jika artikel ini dirasa bermanfaat bagi anda silahkan bagikan/share
artikel ini. terima kasih telah berkunjung.
B.
Menciptakan suasana belajar yang
menyenangkan
1.
Ciptakan iklim yang nyaman buat anak didik Anda
Iklim yang nyaman akan menghilangkan
kecanggungan siswa, baik sesama guru maupun antar siswa sendiri. Hal ini juga
bisa mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan, sehingga komunikasi antara
pendidik dan anak didik dapat terbangun. Sebagai pengajar, Anda dapat
menjelaskan kepada siswa bahwa tidak akan ada siswa lain yang akan mengejek
ketika ia bertanya. Beri motivasi kepada siswa bahwa dengan bertanya, akan
memudahkannya untuk lebih mengetahui tentang sesuatu hal daripada hanya diam
mendengarkan.
2.
Dengarkan dengan serius setiap
komentar atau pertanyaan yang diajukan oleh siswa.
Jika siswa mengajukan pertanyaan, sebisa mungkin fokus
dan memperhatikannya. Meski sederhana, hal ini akan menumbuhkan kepercayaan
diri siswa karena ia merasa diperhatikan. Seringkali siswa merasa kurang
percaya diri sehingga enggan untuk memberikan kontribusi di dalam kelas. Nah,
tugas Anda sebagai pengajar, membangun kepercayaan diri siswa dengan
menunjukkan perhatian-perhatian saat siswa merasa sedang ingin didengarkan.
3.
Jangan ragu memberikan pujian kepada siswa
kita juga bisa mencoba dengan memuji
setiap komentar yang diajukan oleh anak didik kita. Misalnya, "Oh, itu
ide yang sangat bagus" ,atau "Pertanyaan kamu bagus, itu tidak
pernah saya pikirkan sebelumnya”.
4.
Beri pertanyaan yang mudah dijawab
Jika hal di atas belum juga berhasil
untuk mengajak siswa memberikan komentar atau pertanyaan, giliran Anda untuk
mengajukan pertanyaan memancing yang bisa membuat anak didik Anda tidak lagi
bungkam di dalam kelas. Pastikan pertanyaan kita mampu dijawab oleh siswa,
sehingga saat menjawab secara tidak langsung melatih siswa untuk berbicara.
Saat siswa sudah mulai merespon, beri senyum kepada siswa yang sudah
berkomentar. Hal ini akan mengurangi rasa canggung yang biasa ia perlihatkan.
5. Biarkan siswa mengetahui pelajaran
sebelum kelas dimulai
Minta agar para siswa
mempelajari bahan yang nantinya akan kita tanyakan. Sehingga, ia akan
mempersiapkannya terlebih dulu. Jika
saat kita bertanya dan para siswa tidak merespon, ubah format pertanyaan anda
yang hanya membutuhkan jawaban "ya" atau "tidak".
Menarik karya tulisnya
BalasHapus