Senin, 26 Agustus 2019

MENCIPTAKAN SUASANA KELAS YANG EFEKTIF DAN MENYENANGKAN


MATERI KELOMPOK 10

MENCIPTAKAN KONDISI BELAJAR YANG EFEKTIF DAN MENYENANGKAN




A.    Kondisi Belajar Mengajar yang Efektif
        Kondisi belajar mengajar yang efektif   adalah suatu keadaan atau situasi belajar  yang dapat menghasilkan perubahan perilaku pada seseorang setelah ia ditempatkan pada situasi belajar  yang didalamnya melibatkan tenaga pendidik serta peran aktif siswa itu sendiri. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilaksanakannya. Kuantitas dan kualitas tersebut harus sesuai dengan pelajaran yang diberi dalam pengajaran.
        Oleh sebab itu, guru harus memikirkan dan membuat perencanaan secara seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar bagi siswanya dan mempebaiki kualitas mengajarnya.   Kuantitas dan kualitas mengajar menuntut perubahan-perubahan dalam pengorganisasian kelas, penggunaan metode mengajar, strategi belajar mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Guru berperan sebagai pengelola proses belajar mengajar, bertindak selaku fasilitator juga berusaha menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif sehinggga memungkinkan proses belajar mngajar, mengembangkan bahan pelajaran dengan baik, dan meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak pelajaran dan menguasai tujuan-tujuan pendidikan yang harus mereka capai.
1.      Melibatkan Siswa Secara Aktif

        Mengajar adalah membimbing kegiatan belajar siswa sehingga ia mau belajar.  Dengan demikian, aktivitas siswa sangat diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar sehingga siswalah yang seharusnya banyak aktif, sebab murid sebagai subjek didik adalah yang merencanakan, dan ia sendiri yang melaksanakan belajar. Aktivitas belajar siswa yang dimaksudkan disini adalah aktivitas jasmaniah maupun aktivitas mental. Menurut Usman (2013:22) aktivitas belajar siswa dapat digolongkan ke dalam beberapa hal, yaitu :
  1. Aktivitas visual (Visual activities) seperti membaca, menulis, melakukan eksperimen dan demonstrasi.
  2. Aktivitas lisan (Oral activities) seperti bercerita, membaca sajak, tanya jawab, diskusi, nyanyi.
  3. Aktivitas mendengarkan(listening activities) seperti mendengarkan penjelasan guru, ceramah, pengarahan.
  4. Aktivitas gerak (motor activities) seperti senam, atletik,menari, melukis.
  5. Aktivitas menulis (writing activities) seperti mengarang, membuat makalah, membuat surat.
        Setiap jenis aktivitas tersebut diatas memiliki kadar atau  bobot  yang berbeda bergantung pada segi tujuan mana yang akan di capai dalam kegiatan belajar mengajar. Yang jelas, aktivitas kegiatan belajar murid hendaknya memiliki kadar atau bobot yang lebih tinggi. Berikut ini dikemukakan sistem belajar mengajar yang merupakan salah satu upaya dalam menciptakan belajar mengajar yang efektif dan efisien yakni dengan sistem belajar siswa aktif atau CBSA.  Dengan demikian untuk melihat keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar  dapat diwujudkan dengan cara, keterlibatan siswa secara langsung dalam menyampaikan suatu pendapat atau opini, baik secara individu maupun kelompok.
        Secara harafiah Cara belajar siswa aktif dapat diartikan sebagai sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental intelektual, dan emosional untuk memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara kognitif, afektif, dan psikomotor. CBSA merupakan konsep  yang sukar didefinisikan secara tegas sebab sebenarnya semua cara belajar itu mengandung unsur keaktifan pada diri anak didik, meskipun kadar keaktifannya itu berbeda-beda. Dengan kata lain, keaktifan dalam CBSA menunjuk pada keaktifan mental meskipun untuk mencapai maksud ini dalam banyak hal dipersyaratkan keterlibatan langsung dalam berbagai keaktifan fisik.
2.      Menarik Minat dan Perhatian Siswa

       Menurut Usman (2013:27) Kondisi belajar mengajar yang efektif adalah adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar mengajar. Minat merupakan suatu sifat yang relatif menetap pada diri seseorang. Minat ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya, tanpa minat seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu. Keterlibatan siswa dalam belajar erat kaitannya dengan sifat-sifat murid, baik yang bersifat kognitif seperti kecerdasan dan bakat maupun yang bersifat afektif seperti motivasi, rasa percaya diri, dan minatnya. William james (dalam Usman 2013:17) melihat bahwa minat siswa merupakan faktor utama yang menentukan derajat keaktifan belajar siswa. Jadi, efektif merupakan faktor yang menentukan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar.

        Perhatian bersifat lebih sementara dan ada hubungannya dengan minat. Perbedaaannya ialah minat sifatnya menetap sedangkan perhatian sifatnya sementara, adakalanya menghilang.  Pendapat diatas memberi gambaran tentang eratnya kaitan antara minat dan perhatian. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan perhatian seseorang terhadap sesuatu , maka terlebih dahulu harus ditingkatkan minatnya.

3.      Membangkitkan Motivasi Siswa

       Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu, atau keadaan seseorang atau organisme yang menyebabkan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laku atau perbuatan. Sedangkan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk  berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.Tugas guru adalah membangkitkan motivasi anak sehingga ia mau melakukan belajar. Menurut Usman (2013:29) Motivasi dapat timbul dari dalam diri individu dan dapat pula timbul akibat pengaruh dari luar dirinya.

a.       Motivasi Instrinsik
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauan sendiri.

b.      Motivasi Ekstrinsik
      Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.  Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan,  atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar.
4.      Prinsip Individualitas
    
      Salah satu masalah utama dalam pendekatan belajar mengajar ialah masalah perbedaan individual. Setiap guru memahami bahwa tidak semua murid dapat mempelajari  apa-apa yang ingin di capai oleh guru. Biasanya perbedaan individual itulah yang lalu dijadikan kambing hitam. Jarang sekali guru menjelaskan bahwa ketidakmampuan murid dalam belajar itu merupakan akibat dari kelemahan guru dalam mengajar.

      Menurut Bloom (dalam Usman 2013:30), Jika guru memahami persyaratan kognitif dan ciri-ciri sikap yang diperlukan untuk belajar seperti minat dan konsep diri pada diri siswa-siswanya, dapat diharapkan sebagian terbesar siswa akan dapat mencapai taraf penguasaan sampai 75% dari yang di ajarkan. Oleh sebab itu, hendaknya guru mampu menyesuaikan proses belajar mengajar dengan kebutuhan-kebutuhan siswa secara individual tanpa harus mengajar siswa secara individual.

      Mursell (dalam Usman 2013:30)  mengemukakan perbedaan individual secara vertikal dan secara kualitatif. Yang dimaksudkan dengan perbedaan vertikal adalah intelegensi umum dari siswa itu. Perbedaan kualitatif terletak pada bakat dan minatnya.  Maka wajar bila ada anak yang suka mempelajari atau memperdalam IPA,IPS,elektronika, dan sebagainya.

5.      Pengajaran dan penghargaan

     Alat peragaan pengajaran, teaching aids, atau audiovisual  aids (AVA) adalah alat-alat yang digunakan guru ketika mengajar untuk membantu memperjelas materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa dan mencegah terjadinya Verbalisme pada diri siswa. Pengajaran yang digunakan banyak verbalisme tentu akan segera membosankan anak sebaiknya pengajaran akan lebih menarik bila siswa gembira belajar atau senang karena mereka merasa tertarik dan mengerti pelajaran yang di terimanya. 







     Usman (2013:31) mengemukakan Belajar yang efektif harus mulai dengan pengalaman langsung atau pengalaman konkret dan menuju pada pengalaman yang lebih abstrak. Belajar akan lebih efektif jika di bantu dengan alat peraga pengajaran dari pada bila siswa belajar tanpa di bantu dengan alat pengajaran.
Menurut Usman (2013:31) Penggunaan alat peraga pengajaran hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

Nilai atau manfaat media pendidikan

  Media pendidikan yang di sebut audiovidual aids menurut Encyclopedia Educational Research memiliki nilai sebagai berikut.

a.       Meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berfikir. Oleh karena itu, mengurangi verbalisme (tahu istilah tetapi tidak tahu arti, tahu nama tetapi tidak tahu bendanya).
b.      Memperbesar perhatian siswa.
c.       Membuat pelajaran lebih menatap atau tidak mudah di lupakan.
d.      Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan para siswa
e.       Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu.
f.       Membantu tumbuhnya pengertian dan membantu perkembangan kemampaun berbahasa.
William Burton dalam Uzer Usman (2013:32) memberikan petunjuk bahwa dalam memilih alat peraga yang akan digunakan hendaknya kita memperhatikan hal-hal berikut :
    1. Alat-alat yang di pilih harus sesuai dengan kematangan dan  pengalaman siswa serta perbedaan individual dalam kelompok.
    2. Alat yang dipilih harus tepat memadai dan mudah di gunakan.
    3. Harus di rencanakan dengan teliti dan diperiksa lebih dahulu.
    4. Penggunaan alat peraga di sertai kelanjutannya seperti dengan diskusi, analisis, dan evaluasi.
    5. Sesuai dengan batas kemampuan biaya.
jenis pengertian atau dalam hubungannya dengan tujuan.
  1. Audiovisual dan sumber-sumber yang digunakan merupakan bagian integral dari pengajaran.
  2. Perlu diadakan persiapan yang saksama oleh guru dan siswa mengenai alat audiovisual .
  3. Siswa menyadari tujuan alat audiovisual dan merespons data yang diberikan.
  4. Perlu diadakan kegiatan lanjutan.
  5. Alat audiovisual dan sumber-sumber yang digunakan untuk menambah kemampaun komunikasi memungkinkan belajar lebih karena adannya hubungan-hubungan.
     
    Demikianlah beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan dalam penggunaan alat peraga pengajaran sehingga kegiatan belajar mengajar akan lebih efektif  jika dibandingkan hanya dengan penjelasan lisan. Demikianlah pembahasan tentang Kondisi Belajar Mengajar yang Efektif semoga dapat menjadi referensi bagi anda, dan jika artikel ini dirasa bermanfaat bagi anda silahkan bagikan/share artikel ini. terima kasih telah berkunjung.

B.     Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan


1.       Ciptakan iklim yang nyaman buat anak didik Anda

   Iklim yang nyaman akan menghilangkan kecanggungan siswa, baik sesama guru maupun antar siswa sendiri. Hal ini juga bisa mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan, sehingga komunikasi antara pendidik dan anak didik dapat terbangun. Sebagai pengajar, Anda dapat menjelaskan kepada siswa bahwa tidak akan ada siswa lain yang akan mengejek ketika ia bertanya. Beri motivasi kepada siswa bahwa dengan bertanya, akan memudahkannya untuk lebih mengetahui tentang sesuatu hal daripada hanya diam mendengarkan.

2.       Dengarkan dengan serius setiap komentar atau pertanyaan yang diajukan oleh siswa.

   Jika siswa mengajukan pertanyaan, sebisa mungkin fokus dan memperhatikannya. Meski sederhana, hal ini akan menumbuhkan kepercayaan diri siswa karena ia merasa diperhatikan. Seringkali siswa merasa kurang percaya diri sehingga enggan untuk memberikan kontribusi di dalam kelas. Nah, tugas Anda sebagai pengajar, membangun kepercayaan diri siswa dengan menunjukkan perhatian-perhatian saat siswa merasa sedang ingin didengarkan.

3.      Jangan ragu memberikan pujian kepada siswa

   kita juga bisa mencoba dengan memuji setiap komentar yang diajukan oleh anak didik kita. Misalnya, "Oh, itu ide yang sangat bagus" ,atau "Pertanyaan kamu bagus, itu tidak pernah saya pikirkan sebelumnya”.

4.      Beri pertanyaan yang mudah dijawab

   Jika hal di atas belum juga berhasil untuk mengajak siswa memberikan komentar atau pertanyaan, giliran Anda untuk mengajukan pertanyaan memancing yang bisa membuat anak didik Anda tidak lagi bungkam di dalam kelas. Pastikan pertanyaan kita mampu dijawab oleh siswa, sehingga saat menjawab secara tidak langsung melatih siswa untuk berbicara. Saat siswa sudah mulai merespon, beri senyum kepada siswa yang sudah berkomentar. Hal ini akan mengurangi rasa canggung yang biasa ia perlihatkan.

5.      Biarkan siswa mengetahui pelajaran sebelum kelas dimulai

    Minta agar para siswa mempelajari bahan yang nantinya akan kita tanyakan. Sehingga, ia akan mempersiapkannya terlebih dulu.  Jika saat kita bertanya dan para siswa tidak merespon, ubah format pertanyaan anda yang hanya membutuhkan jawaban "ya" atau "tidak".









1 komentar: