Selasa, 27 Agustus 2019

PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN KELAS


MATERI KELOMPOK 4
PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN KELAS

A.    PENGERTIAN PRINSIP MANAJEMEN KELAS
           Manajemen kelas merupakan usaha guru untuk menata dan mengatur tata-laksana kelas diawali dari perencanaan kurikulum, penataan prosedur dan sumber belajar, pengaturan lingkungan kelas, memantau kemajuan siswa dan mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin timbul dikelas.
a)      Prinsip Dasar Manajemen Kelas 
          Pengelolaan kelas mengandung pengertian yaitu, proses pengelolaan kelas untuk menciptakan suasana dan kondisi kelas yang memungkinkan siswa dapat belajar secara efektif.
          Sedangkan prinsip dasar pengelolaan kelas adalah pegangan atau acuan yang dimiliki sebagai pokok dasar berfikir atau bertindak bagi seorang pendidik dalam usaha menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal serta mengembalikan kondisinya bila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran.

         Tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak dapat bekerja dengan tertib sehingga tercapai tujuan pengajaran yang efektif. Sebagai indikator dari sebuah kelas yang tertib adalah: 

1.      Setiap anak harus bekerja, tidak macet artinya tidak ada anak yang terhenti karena
tidak tahu akan tugas yang harus diselesaikan atau tidak dapat melakukan tujuan yang diberikan kepadanya. 

2.      Setiap anak terus melakukan pekerjaaan tanpa membuang waktu, artinya setiap
anak bekerja secepatnya agar cepat menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Pengelolaan kelas sangat dibutuhkan untuk kelangsungan belajar mengajar yang optimal dan menghindari terjadinya gangguan dalam pengelolaan kelas. Jadi, berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas adalah keterampilan guru menciptakan dan memilihara kondisi belajar yang optimal. Sedangkan prinsip dari pengelolaan kelas yaitu cara atau pegagangan yang harus dimiliki guru dalam menciptakan suasana belajar dan mengembalikan suasana belajar apabila ada gangguan. 

b)     Macam-Macam Prinsip Dalam Manajemen Kelas Prinsip-prinsip pengelolaan
kelas adalah sebagai berikut :

1.      Hangat dan antusias Hangat dan antusias merupakan salah satu peinsip yang
diperlukan dalam proses belajar dan mengajar. Guru yang hangat dan akrab pada anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktifitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas..
2.      Tantangan Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja, atau bahan-bahan yang
menantang akan meningkatkan gairah siswa untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang. 

3.      Bervariasi Penggunaan alat atau media, gaya mengajar guru, pola interaksi antara
guru dan anak didik akan mengurangi munculnya gangguan, meningkatkan perhatian siswa. Penggunaan media dapat membuat pelajaran menjadi menarik, menghilangkan kejenuhana dan membantu siswa dan keterampilan. Kevariasian ini merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang efektif dan menghindari kejenuhan. 

4.      Keluwesan Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya
dapat mecegah kemungkinan munculnya gangguan siswa serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif. Sikap dan tingkah laku, menonton dalam mengajar dapat menciptakan suasana belajar kondusif dan menarik, sehingga anak didik akan focus dan kosentrasi dalam belajar. 

5.      Penekanan pada hal-hal yang positif Pada dasarnya dalam mengajar dan mendidik
guru harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal-hal yang negatif. Penekanan pada hal-hal yang positif yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap tingkah laku siswa yangpositif dari pada mengomeli tingkah laku yang negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar. 

6.      Penanaman disiplin diri Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik
dapat mengembangkan disiplin diri sendiri. Untuk itu seorang guru dapat mendorong anak didik untuk dapat melaksanakan disiplin. Dan guru hendaknya menjadi teladan mengendalaikan diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Jadi, guru harus disiplin dalam segala hal bila ingin ana didiknya ikut berdisiplin dalam segala hal. 

7.      Stabilitas emosi yang stabil guru harus bisa menjaga emosi nya dan sabar dalam
melatih perseta didik. 

8.      Optiisme dan percaya diri diharapkan guru punya rasa kepercayaan diri yang kuat
dalam mengajar. 9. Kesederhanaan ( penampilan dan pakaian).

9.      Adil seorang guru harus menyamakan peserta didik tanpa bembedakan gender nya
yang kaya maupun siswa yang miskin, yang pintar mapun yang bodoh, adil dalam memberikan nilai. 

10.  Humoris seorang guru harus bisa membawa suasana belajar yang santai tidak
kaku, kadang-kadang ada suatu cerita yang membuat anak didik tertawa. Jadi dapat penulis simpulkan bahwa dalam pengelolaan kelas guru harus bisa menjalankan prinsip yang terdapat diatas agar tujuan dari manajemen kelas dapat terlaksana dengan baik.  
c)      Strategi untuk Mengimplementasikan Prinsip-prinsip Manajemen kelas dalam Pembelajaran. 

Strategi pengelolaan kelas adalah pola atau siasat yang menggambarkan langkah-langkah yang digunakan guru dalam menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas agar tetap kondusif, sehingga siswa dapat belajar optimal, aktif, dan menyenagkan dengan efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Prinsip-prinsip pengelolaan kelas di atas dapat diimplikasikan guru dalam proses belajar mengajar dengan cara-cara sebagai berikut: 

1.      Keteladanan Keteladanan merupakan pemberian contoh dari seseorang pada orang
lain. Seorang guru dalam mengadakan pendekatan kepada anak didiknya dapat dilakukan dengan memberikan keteladanan kepada anak didiknya dengan sikap dan tingkah laku yang baik. Dengan sikap dan tingkah laku yang ditunjukkan oleh guru pada anak didiknya akan menimbulkan semangat bagi anak didik dalam pembelajaran. 

2.      Pembiasaan Pembiasaan adalah menerapkan sesuatu secara kontiniu agar menjadi
sebuah kebiasaan. 

3.      Melalui cerita atau contoh Pembelajaran akan lebih mudah dipahami oleh anak
didik ketika seorang guru dapat menerangkan pelajaran dengan memberikan contoh yang sesuai dengan materi pelajaran. Jadi guru diharapkan mampu membawa peserta didik mengikuti jalan cerita dengan berusaha membuat peserta didik memiliki pandangan yang rasional terhadap sesuatu. 

4.      Terapan melaui kurikulum Dalam menerapkan kurikulum pada setiap mata
pelajaran dapat diterapkan prinsip-prinsip pengelolaan kelas.


B.     PERMASALAHAN DALAM PRINSIP MANAJEMEN KELAS

a.       Masalah Perorangan Masalah perorangan muncul karena dalam individu ada
        kebutuhan ingin diterima kelompok dan ingin mencapai harga diri. Apabila kebutuhan itu tidak dapat lagi melalui cara lazim yang dapat diterima masyarakat, maka individu yang bersangkutan dakan berusaha mencapainya dengan cara lain. Dengan perkataan lain individu akan berbuat tidak baik.

        Dalam konteks ini (Dreikurs dan Casse dalam T. Raka Joni, 1989) dikutip dari (Mulyadi, 2009:12) membedakan empat kelompok masalah manajemen kelas yang bersifatindividual,yaitu:

1)      Attention-getting behaviors, yaitu tingkah laku menarik perhatian orang lain.
2) Power-seeking behaviors, yaitu tingkah laku mencari kekuasaan.
3) Revenge-seeking behaviors, yaitu tingkah laku menuntut balas.
4) Perangkat ketidakmampuan, yaitu dalam bentuk sama sekali menolak untuk mencoba melakukan apapun karena yakin hanya kegagalanlah yang menjadi bagiannya.

b.      Masalah Kelompok Louis VJohnson dan Mary A. Bany (dalam T.Raka Joni, 1989)
dikutip dari (Mulyadi, 2009:15-16) mengemukakan tujuh kategori masalah kelompok dalam manajemen kelas. masalah-masalah yang dimaksud adalah :

1) Kelas kurang kohesif lantaran alasan jenis kelamin, suku, tingkat sosial ekonomi,dan sebagainya.

2) Penyebalan terhadap norma-norma tingkah laku yang disepakati sebelumnya, misalnya sengaja berbicara keras-keras diruang baca perpustakaan.

3) Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya, misalnya mengejek anggota kelas yang dalam pengajaran seni suara, menyanyi dengan suara sumbang.

4) Membimbing anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok, misalnya pembinaansemangatkepadabadutkelas.

5) Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah dikerjakan.

6) Semangat kerja rendah atau melakukan semacam aksi protes kepada guru karena menganggap yang diberikan kurang fair.

7) Kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru, seperti gangguan jadwal, guru kelas terpaksa diganti sementara oleh guru lain dan sebagainya.



FAKTOR-FAKTOR MEMPENGARUHI BELAJAR DIKELAS


MATERI KELOMPOK 6
FAKTOR-FAKTOR MEMPENGARUHI BELAJAR DIKELAS
A.    FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR
a)      Faktor internal

1.      Faktor jasmani

a.       Faktor kesehatan                          
Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, ngantuk jika badannya lemah, dan lain sebagainya. 

b.      Cacat tubuh
Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh/badan. Siswa yang cacat belajarnya juga terganggu, jika hal ini terjadi hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diusahakan alat Bantu agar dapat menghindari atau mengurangi pengaruh kecacatannya itu. 

2.      Faktor psikologi

a.       Intelegensi 
Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari  tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui/menggunakan konsep-konsep abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.  Intelegensi sangat besar pengaruhnya terhadap belajar. Dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai intelegensi rendah. 

b.      Perhatian 
Perhatian menurut Gazali adalah keaktifan jiwa  yang dipertinggi, jiwa itu semata-mata tertuju kepada suatu objek (benda/hal) atau sekumpulan objek. Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian siswa, maka timbullah kebosanan, sehingga ia tidak lagi suka belajar. 

c.       Minat 
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, akan diperhatikan terus menerus di sertai dengan rasa senang.  Apabila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya. (Slameto, 2010)



d.      Bakat 
Bakat adalah potensi/kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir. Setiap individu mempunyai bakat yang berbeda-beda. Seseorang yang mempunyai bakat musik mungkin di bidang lain ketinggalan, dan lain sebagainya.  Maka seorang murid akan mudah mempelajari yang sesuai dengan bakatnya. Apabila seorang anak harus mempelajari bahan lain dari bakatnya, akan cepat bosan. ( Ahmadi, Abu, Widodo Supriyono, 2004)

e.       Motivasi  
Motivasi sebagai faktor inner (batin) berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan, sehingga semakin besar motivasinya akan semakin besar kesuksesannya. 

f.       Kematangan 
Kematangan adalah suatu tingkat dalam  pertumbuhan seseorang, di mana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Belajar akan lebih berhasil jika anak sudah siap atau matang. Jadi kemajuan baru untuk memiliki kecakapan itu tergantung dari kematangan dan belajar. 

g.      Kesiapan
Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi  respon atau bereaksi. Kesiapan ini perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena jika siswa belajar dan padanya sudah ada kesiapan, maka hasil belajarnya akan lebih baik. 

b)      Faktor Eksternal

Faktor ini terdiri dari dua macam, yaitu:

1.      Faktor lingkungan social
Yang termasuk lingkungan sosial, yaitu: guru, para staf administrasi, teman-teman sekelas, tetangga dan masyarakat. 

2.      Faktor lingkungan non social
Yang termasuk lingkungan non sosial, yaitu: gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu. (Winarno Surakhmad, 1982)

B.     MENGATUR KONDISI KELAS DAN IKLIM BELAJAR SISWA

           Pengelolaan kelas dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana dan kondisi belajar di dalam kelas agar menjadi kondusif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. Dengan kata lain pengelolaan kelas merupakan usaha dalam mengatur segala hal dalam proses pembelajaran, seperti lingkungan dan lingkungan fisik.

1.      Menerapkan metode/model pembelajaran yang bervariasi.
 Kelas yang kondusif sangat dipengaruhi oleh "MOOD" siswa untuk mengikuti pelajaran, metode pembelajaran yang monoton dan itut-itu saja membuat siswa merasa jenuh dan bosan maka dari alangkah baiknya dalam mengajar.

2.      Menjadi guru yang tegas
Biasanya suasana belajar tidak kondusif disebabkan oleh guru yang kurang tegas terhadap anak didiknya sehingga siswa kebanyakan bermain-main atau melakukan aktivitas lain sementara gurunya sibuk menjelaskan. Alngkah baiknya seorang guru memiliki ketegasan agar murid lebih menghargainya, tegas bukan berarti keras  namun lebih tepatnya memiliki soul inside atau kharisma sehingga murid lebih segang untuk melakukan hal yang kurang baik saat belajar.

3.      Menyepakati aturan bersama
Langkah selanjutnya yang bisa kita coba untuk mengatasi kelas yang tidak kondusif adalah membuat aturan bersama siswa, misalkan aturan tata tertib, perilaku dan lain-lain hal ini bertujuan agar siswa tidak melakukan sesuatu yang diluar batas wajar. untuk hukuman jika melanggar aturan yang telah disepakati bersama bisa dengan memberikan hukuman yang mendidik seperti, membersihkan ruang kelas, hafal perkalian.
4.      Menjadi guru yang menyenangkan
Membangun komunikasi yang baik, menganggap siswa sebagai anak sendiri, mendengarkan keluh-kesah siswa, minta saran dan pendapat dari siswa adalah beberapa cara yang bisa dilakukan agar disenangi oleh siswa. Kurangi sikap otoriter dalam belajar dan berusahalah menjadi guru yang dirindukan oleh siswa kita
.
5.      Atur posisi duduk siswa sebaik mungkin
Cara Membuat Kelas Kondusif Dan Tenang adalah mengatur posisi duduk siswa sebaik mungkin. Posisi duduk siswa bisa juga menjadi penyebab kelas menjadi kurang kondusif, anda bisa merotasi tenpat duduk siswa, kita juga bisa menempatkan anak yang nakal dan suka menganggu temannya di posisi depan agar bisa diawasi. sekali-kali model tempat duduk juga bisa dirubah sperti model tapal kuda, model diskusi, model berhadapan.

6.      Mendesain kelas agar nyaman
Cara Membuat Kelas Kondusif Dan Tenang adalah mendesain kelas agar nyaman. Kelas yang pengap, sempet, berdebu, kotor, bau dan sirkulasi udara yang kurang baik bisa menjadi penyebab pmebelajaran menjadi kurang kondusif. Maka dari itu usahakan agar kelas bisa menjadi ruangan yang sejuk dengan desain yang indah agar siswa merasa betah berada di kelas, selain itu anda bisa menpercantik kelas kita dengan memajang media-media pembelajaran yang bervariasi di dinding kelas

7.      Biarkan siswa berkereasi
Cara Membuat Kelas Kondusif Dan Tenang adalah dengan memberi kesempatan pada siswa untuk berkreasi. Guru adalah fasilitator, motivator, katalisator dan mediator. Guru tidak boleh otoriter dan menguasai pembelajaran namun biarkan siswa yang lebih berkreasi. bukan teacher center melainkan student center, guru memposisikan diri sebagai media, pengarah, motivator.

8.      Belajar diluar ruangan
Mungkin persepsi kita selama ini tentang kelas agar keliru, sebagian mengartikan kelas sebagai tempat belajar padahal hal tersebut kurang tepat karena arti kelas adalahrombonganbelajar.

9.      Memberi nasehat.
Nasehat adalah cara yang bijaksana untuk menyentuh hati siswa agar mau berubah menjadi lebih baik, ajaklah atau tenangkan suasana kelas kemudian berikan nasehat yang bisa membuat siswa menjadi sadar akan tugasnya sebagai siswa. Dengan nasehat yang tepat dan baik akan membuat siswa akan sadar sendiri dengan tugas dan tanggung jawabnya sehingga lebih bersungguh-sunggu untuk mengikuti pelajaran.

10.  Bercanda
Agar pembelajaran  bisa menyenangkan, terlalu serius juga kurang baik sebaiknya diselingi beberapa candaan lebih tepatnya candaan positif. Dengan menyelingin pembelajaran dengan sedikit candaan maka suasana pembalajaran tidak menjadi tegang dan tidak kakuh sehingga siswa lebih nyaman dalam belajar.

C.     KONDISI YANG MEMPENGARUHI IKLIM BELAJAR

1.      Kondisi dan Situasi Belajar Mengajar

a.       Kondisi Fisik
Lingkungan fisik tempat belajar memberikan pengaruh terhadap hasil bejar anak. Guru harus dapat menciptakan lingkungan yang membantu perkembangan pendidikan peserta didik.

1.      Ruang tempat berlangsungnya pembelajaran; Ruang Kelas, Ruang Laboratorium, Ruang Serbaguna/Aula. 
2.       Pengaturan tempat duduk; Pola berderet atau berbaris-belajar, Pola susun berkelompok, Pola formasi tapal kuda, Pola lingkaran atau persegi.
3.       Ventilasi dan pengaturan cahaya.
4.       Pengaturan penyimpanan barang-barang.

b.        Kondisi Sosio Emosional
Kondisi sosio-emosional akan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap proses belajar mengajar, kegairahan siswa dan efektivitas tercapainya tujuan pengajaran. 

1.       Tipe kepemimpinan guru, artinya adalah fungsi yang melekat pada guru ketika berada dalam kelas. Gaya apa yang muncul ketika guru melaksanakan peran sebagai pemimpin dalam pembelajaran di kelas.  Apakah gaya otoriter segala sesuatunya diatur dan diarahkan oleh sendiri dan siswa tidak diberikan kesempatan untuk terlibat didalamnya, atau gaya demokrasi dimana terjadi proses timbal balik antara guru dan murid sesuai dengan peranannya masing-masing. 
2.       Sikap guru, sikap yang diperlihatkan oleh guru di depan kelas atau di luar kelas yang akan mempengaruhi mood anak, apakah anak merasa tertarik dengan sikap guru atau malah tidak tertarik.  Sikap yang baik sebagai seorang guru, bapak/ibu, kakak, orang dewasa yang memberikan bimbingan tentunya adalah hal yang paling baik diperlihatkan. 
3.      Pembinaan hubungan baik, hubungan antara guru dengan murid harus dibangun berdasarkan fungsi masing-masing dalam konteks belajar mengajar dikelas, akan tetapi apabila memungkinkan dapat juga dibangun sifat-sifat kekeluargaan dan keakraban yang menyebabkan siswa merasa nyaman dan aman berhubungan seperti dengan orang tuanya.

c.        Kondisi Organisasional

Kegiatan rutin secara organisasional dilakukan baik tingkat kelas maupun tingkat sekolah akan mencegah timbulnya masalah dalam pengelolaan kelas.
 
1.       Pergantian pelajaran, ketika terjadi penggantian dalam pelajaran harus disikapi oleh guru karena dalam proses ini ada jeda (kekosongan) yang memungkinkan terjadinya interaksi yang tidak diharapkan dari siswa dengan siswa lainnya.  Perlu disikapi dengan arif bahwa ketika mengahiri pelajaran guru tidak terlalu cepat karena guru selanjutnya apakah sudah tiba dan apabila belum maka masa jeda itu terlalu lama.
2.       Guru berhalangan hadir, guru yang berhalangan hadir akan menyebabkan terjadinya kekosongan dalam proses belajar mengajar. Untuk menghindari terjadinya keributan atau perilaku-perilaku yang tidak diharapkan dari siswa seperti berlarian kesana kemari menggangu kelas lain, dan menimbulkan kerusakan pada fasilitas kelas, maka guru piket harus paham apa yang terjadi dan mempersiapkan diri untuk menutup ketidakhadiran tersebut. 
3.       Masalah antar siswa, masalah antar siswa biasanya terjadi karena kondisi emosional yang tidak terkendali dan tidak terorganisasikan oleh guru.  Guru harus memahami karakteristik dan potensi guru sehingga dapat dipahami keseluruhan perilaku masing-masing dan menekan munculnya konflik diantaranya.
4.       Upacara bendera, pada saat upacara bendera siswa harus diorganisasikan berdasarkan tingkatan kelas sehingga mereka dapat tertib mengikuti kegiatan upacara bendera. 
5.       Kegiatan lain; kesehatan dan kehadiran siswa, penyampaian informasi dari sekolah kepada guru dan siswa, peraturan sekolah yang baru, kegiatan rekreasi dan social.

d.        Kondisi Administrasi Teknik

Kondisi administrasi teknik akan turut mempengaruhi manajemen pembelajaran di dalam kelas. 

1.      Daftar presensi, kerapihan, kebersihan dan keteraturan daftar presensi akan memberikan dukungan terhadap proses pembelajaran yang dilakukan. Keterdukungan dari sisi keteraturan dalam presensi akan memberikan efek psikologis terhadap siswa karena terjadi keadilan dalam perlakuan.
2.       Ruang bimbingan siswa, ruang bimbingan siswa diarahkan untuk memberikan bantuan pada siswa yang secara emosional memiliki masalah.  Hal terpenting dari ruang bimbingan adalah bagaimana ruang tersebut tidak menimbulkan ketakutan ketika harus berhubungan dengan guru disana. 
3.      Tempat baca, tempat baca merupakan bagian dari fasilitas yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk berinteraksi dengan kawannya, dengan fasilitas dan guru. 
4.       Tempat sampah, tempat sampah yang bersih ditempatkan di tempat yang tepat dan tidak menggangu kegiatan belajar maupun bermain siswa, akan memberikan dukungan terhadap pencapaian tujuan pembelajaran di kelas.  Bau sampah, berserakan dimana-mana, siswa tidak mengetahui tempat penyimpanan sampah atau karena tidak ada tempat sampah akan berakibat buruk pada kondisi sosio-emosional dan fisik siswa. 
5.       Catatan pribadi siswa, catatan pribadi adalah alat berinteraksi guru dengan siswanya. Perlakuan-perlakuan khusus yang dibutuhkan untuk masing-masing siswa dapat dilihat dari catatan-catatan tentang siswa.