MATERI KELOMPOK 6
FAKTOR-FAKTOR MEMPENGARUHI BELAJAR DIKELAS
A.
FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI BELAJAR
a)
Faktor internal
1. Faktor jasmani
a.
Faktor kesehatan
Proses
belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu
juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, ngantuk jika badannya lemah, dan
lain sebagainya.
b.
Cacat tubuh
Cacat
tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai
tubuh/badan. Siswa yang cacat belajarnya juga terganggu, jika hal ini terjadi
hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diusahakan alat Bantu
agar dapat menghindari atau mengurangi pengaruh kecacatannya itu.
2.
Faktor
psikologi
a.
Intelegensi
Intelegensi
adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk
menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan
efektif, mengetahui/menggunakan konsep-konsep abstrak secara efektif,
mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat. Intelegensi sangat
besar pengaruhnya terhadap belajar. Dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai
tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai
intelegensi rendah.
b.
Perhatian
Perhatian
menurut Gazali adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itu
semata-mata tertuju kepada suatu objek (benda/hal) atau sekumpulan objek. Untuk
dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian
terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian
siswa, maka timbullah kebosanan, sehingga ia tidak lagi suka belajar.
c.
Minat
Minat
adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa
kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, akan diperhatikan terus menerus di
sertai dengan rasa senang. Apabila bahan pelajaran yang dipelajari tidak
sesuai dengan minat siswa, maka siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya,
karena tidak ada daya tarik baginya. (Slameto, 2010)
d.
Bakat
Bakat
adalah potensi/kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir. Setiap individu
mempunyai bakat yang berbeda-beda. Seseorang yang mempunyai bakat musik mungkin
di bidang lain ketinggalan, dan lain sebagainya. Maka seorang murid akan
mudah mempelajari yang sesuai dengan bakatnya. Apabila seorang anak harus
mempelajari bahan lain dari bakatnya, akan cepat bosan. ( Ahmadi, Abu, Widodo
Supriyono, 2004)
e.
Motivasi
Motivasi
sebagai faktor inner (batin) berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan
perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai
tujuan, sehingga semakin besar motivasinya akan semakin besar kesuksesannya.
f.
Kematangan
Kematangan
adalah suatu tingkat dalam pertumbuhan seseorang, di mana alat-alat
tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Belajar akan lebih
berhasil jika anak sudah siap atau matang. Jadi kemajuan baru untuk memiliki kecakapan
itu tergantung dari kematangan dan belajar.
g.
Kesiapan
Kesiapan
adalah kesediaan untuk memberi respon atau bereaksi. Kesiapan ini perlu
diperhatikan dalam proses belajar, karena jika siswa belajar dan padanya sudah
ada kesiapan, maka hasil belajarnya akan lebih baik.
b)
Faktor Eksternal
Faktor ini terdiri dari dua macam, yaitu:
1.
Faktor
lingkungan social
Yang
termasuk lingkungan sosial, yaitu: guru, para staf administrasi, teman-teman
sekelas, tetangga dan masyarakat.
2.
Faktor
lingkungan non social
Yang
termasuk lingkungan non sosial, yaitu: gedung sekolah dan letaknya, rumah
tempat tinggal, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu. (Winarno Surakhmad,
1982)
B.
MENGATUR KONDISI KELAS DAN IKLIM
BELAJAR SISWA
Pengelolaan kelas dalam pengembangan
budaya dan iklim sekolah adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan
suasana dan kondisi belajar di dalam kelas agar menjadi kondusif dan
menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai
dengan kemampuan. Dengan kata lain pengelolaan kelas merupakan usaha dalam
mengatur segala hal dalam proses pembelajaran, seperti lingkungan dan lingkungan
fisik.
1.
Menerapkan metode/model pembelajaran yang
bervariasi.
Kelas yang kondusif sangat dipengaruhi oleh
"MOOD" siswa untuk mengikuti pelajaran, metode pembelajaran yang
monoton dan itut-itu saja membuat siswa merasa jenuh dan bosan maka dari
alangkah baiknya dalam mengajar.
2.
Menjadi guru yang tegas
Biasanya
suasana belajar tidak kondusif disebabkan oleh guru yang kurang tegas terhadap
anak didiknya sehingga siswa kebanyakan bermain-main atau melakukan aktivitas
lain sementara gurunya sibuk menjelaskan. Alngkah baiknya seorang guru memiliki
ketegasan agar murid lebih menghargainya, tegas bukan berarti keras namun
lebih tepatnya memiliki soul inside atau kharisma sehingga murid lebih segang
untuk melakukan hal yang kurang baik saat belajar.
3.
Menyepakati aturan bersama
Langkah
selanjutnya yang bisa kita coba untuk mengatasi kelas yang tidak kondusif
adalah membuat aturan bersama siswa, misalkan aturan tata tertib, perilaku dan
lain-lain hal ini bertujuan agar siswa tidak melakukan sesuatu yang diluar
batas wajar. untuk hukuman jika melanggar aturan yang telah disepakati bersama
bisa dengan memberikan hukuman yang mendidik seperti, membersihkan ruang kelas,
hafal perkalian.
4.
Menjadi guru yang menyenangkan
Membangun
komunikasi yang baik, menganggap siswa sebagai anak sendiri, mendengarkan
keluh-kesah siswa, minta saran dan pendapat dari siswa adalah beberapa cara
yang bisa dilakukan agar disenangi oleh siswa. Kurangi sikap otoriter dalam
belajar dan berusahalah menjadi guru yang dirindukan oleh siswa kita
.
5.
Atur posisi duduk siswa sebaik mungkin
Cara
Membuat Kelas Kondusif Dan Tenang adalah mengatur posisi duduk siswa
sebaik mungkin. Posisi duduk siswa bisa juga menjadi penyebab kelas menjadi
kurang kondusif, anda bisa merotasi tenpat duduk siswa, kita juga bisa
menempatkan anak yang nakal dan suka menganggu temannya di posisi depan agar
bisa diawasi. sekali-kali model tempat duduk juga bisa dirubah sperti model
tapal kuda, model diskusi, model berhadapan.
6.
Mendesain kelas agar nyaman
Cara
Membuat Kelas Kondusif Dan Tenang adalah mendesain kelas agar nyaman. Kelas
yang pengap, sempet, berdebu, kotor, bau dan sirkulasi udara yang kurang baik
bisa menjadi penyebab pmebelajaran menjadi kurang kondusif. Maka dari itu
usahakan agar kelas bisa menjadi ruangan yang sejuk dengan desain yang indah
agar siswa merasa betah berada di kelas, selain itu anda bisa menpercantik
kelas kita dengan memajang media-media pembelajaran yang bervariasi di dinding
kelas
7.
Biarkan siswa berkereasi
Cara
Membuat Kelas Kondusif Dan Tenang adalah dengan memberi kesempatan pada
siswa untuk berkreasi. Guru adalah fasilitator, motivator, katalisator
dan mediator. Guru tidak boleh otoriter dan menguasai pembelajaran namun
biarkan siswa yang lebih berkreasi. bukan teacher center melainkan student
center, guru memposisikan diri sebagai media, pengarah, motivator.
8.
Belajar diluar ruangan
Mungkin
persepsi kita selama ini tentang kelas agar keliru, sebagian mengartikan kelas
sebagai tempat belajar padahal hal tersebut kurang tepat karena arti kelas
adalahrombonganbelajar.
9.
Memberi nasehat.
Nasehat
adalah cara yang bijaksana untuk menyentuh hati siswa agar mau berubah menjadi
lebih baik, ajaklah atau tenangkan suasana kelas kemudian berikan nasehat yang
bisa membuat siswa menjadi sadar akan tugasnya sebagai siswa. Dengan nasehat
yang tepat dan baik akan membuat siswa akan sadar sendiri dengan tugas dan
tanggung jawabnya sehingga lebih bersungguh-sunggu untuk mengikuti pelajaran.
10. Bercanda
Agar
pembelajaran bisa menyenangkan, terlalu serius juga kurang baik sebaiknya
diselingi beberapa candaan lebih tepatnya candaan positif. Dengan menyelingin
pembelajaran dengan sedikit candaan maka suasana pembalajaran tidak menjadi
tegang dan tidak kakuh sehingga siswa lebih nyaman dalam belajar.
C.
KONDISI
YANG MEMPENGARUHI IKLIM BELAJAR
1.
Kondisi
dan Situasi Belajar Mengajar
a.
Kondisi Fisik
Lingkungan fisik tempat belajar
memberikan pengaruh terhadap hasil bejar anak. Guru harus dapat menciptakan
lingkungan yang membantu perkembangan pendidikan peserta didik.
1.
Ruang tempat berlangsungnya
pembelajaran; Ruang Kelas, Ruang Laboratorium, Ruang Serbaguna/Aula.
2.
Pengaturan tempat duduk; Pola berderet atau
berbaris-belajar, Pola susun berkelompok, Pola formasi tapal kuda, Pola
lingkaran atau persegi.
3.
Ventilasi dan pengaturan cahaya.
4.
Pengaturan penyimpanan barang-barang.
b.
Kondisi
Sosio Emosional
Kondisi sosio-emosional akan
mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap proses belajar mengajar,
kegairahan siswa dan efektivitas tercapainya tujuan pengajaran.
1.
Tipe kepemimpinan guru, artinya adalah fungsi yang melekat
pada guru ketika berada dalam kelas. Gaya apa yang muncul ketika guru
melaksanakan peran sebagai pemimpin dalam pembelajaran di kelas. Apakah gaya otoriter segala sesuatunya diatur
dan diarahkan oleh sendiri dan siswa tidak diberikan kesempatan untuk terlibat
didalamnya, atau gaya demokrasi dimana terjadi proses timbal balik antara guru
dan murid sesuai dengan peranannya masing-masing.
2.
Sikap guru, sikap yang diperlihatkan oleh guru di depan
kelas atau di luar kelas yang akan mempengaruhi mood anak, apakah anak merasa
tertarik dengan sikap guru atau malah tidak tertarik. Sikap yang baik sebagai seorang guru,
bapak/ibu, kakak, orang dewasa yang memberikan bimbingan tentunya adalah hal
yang paling baik diperlihatkan.
3.
Pembinaan hubungan baik, hubungan
antara guru dengan murid harus dibangun berdasarkan fungsi masing-masing dalam
konteks belajar mengajar dikelas, akan tetapi apabila memungkinkan dapat juga
dibangun sifat-sifat kekeluargaan dan keakraban yang menyebabkan siswa merasa
nyaman dan aman berhubungan seperti dengan orang tuanya.
c.
Kondisi Organisasional
Kegiatan rutin secara organisasional
dilakukan baik tingkat kelas maupun tingkat sekolah akan mencegah timbulnya
masalah dalam pengelolaan kelas.
1.
Pergantian pelajaran, ketika terjadi penggantian dalam
pelajaran harus disikapi oleh guru karena dalam proses ini ada jeda
(kekosongan) yang memungkinkan terjadinya interaksi yang tidak diharapkan dari
siswa dengan siswa lainnya. Perlu
disikapi dengan arif bahwa ketika mengahiri pelajaran guru tidak terlalu cepat
karena guru selanjutnya apakah sudah tiba dan apabila belum maka masa jeda itu
terlalu lama.
2.
Guru berhalangan hadir, guru yang berhalangan hadir akan
menyebabkan terjadinya kekosongan dalam proses belajar mengajar. Untuk
menghindari terjadinya keributan atau perilaku-perilaku yang tidak diharapkan
dari siswa seperti berlarian kesana kemari menggangu kelas lain, dan
menimbulkan kerusakan pada fasilitas kelas, maka guru piket harus paham apa
yang terjadi dan mempersiapkan diri untuk menutup ketidakhadiran tersebut.
3.
Masalah antar siswa, masalah antar siswa biasanya terjadi
karena kondisi emosional yang tidak terkendali dan tidak terorganisasikan oleh
guru. Guru harus memahami karakteristik
dan potensi guru sehingga dapat dipahami keseluruhan perilaku masing-masing dan
menekan munculnya konflik diantaranya.
4.
Upacara bendera, pada saat upacara bendera siswa harus
diorganisasikan berdasarkan tingkatan kelas sehingga mereka dapat tertib
mengikuti kegiatan upacara bendera.
5.
Kegiatan lain; kesehatan dan kehadiran siswa, penyampaian
informasi dari sekolah kepada guru dan siswa, peraturan sekolah yang baru,
kegiatan rekreasi dan social.
d.
Kondisi
Administrasi Teknik
Kondisi administrasi teknik akan
turut mempengaruhi manajemen pembelajaran di dalam kelas.
1.
Daftar presensi, kerapihan,
kebersihan dan keteraturan daftar presensi akan memberikan dukungan terhadap
proses pembelajaran yang dilakukan. Keterdukungan dari sisi keteraturan dalam
presensi akan memberikan efek psikologis terhadap siswa karena terjadi keadilan
dalam perlakuan.
2.
Ruang bimbingan siswa, ruang bimbingan siswa diarahkan untuk
memberikan bantuan pada siswa yang secara emosional memiliki masalah. Hal terpenting dari ruang bimbingan adalah
bagaimana ruang tersebut tidak menimbulkan ketakutan ketika harus berhubungan
dengan guru disana.
3.
Tempat baca, tempat baca merupakan
bagian dari fasilitas yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk berinteraksi
dengan kawannya, dengan fasilitas dan guru.
4.
Tempat sampah, tempat sampah yang bersih ditempatkan di
tempat yang tepat dan tidak menggangu kegiatan belajar maupun bermain siswa,
akan memberikan dukungan terhadap pencapaian tujuan pembelajaran di kelas. Bau sampah, berserakan dimana-mana, siswa
tidak mengetahui tempat penyimpanan sampah atau karena tidak ada tempat sampah
akan berakibat buruk pada kondisi sosio-emosional dan fisik siswa.
5.
Catatan pribadi siswa, catatan pribadi adalah alat
berinteraksi guru dengan siswanya. Perlakuan-perlakuan khusus yang dibutuhkan
untuk masing-masing siswa dapat dilihat dari catatan-catatan tentang siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar